09 Januari 2009
TEATER MATA
Teater Mata didirikan tahun 1982 di Banda Aceh Pendiri : MASKIRBI, AA MANGGENG, T. CUT MIZARLI & INDA RUFIANI PENTAS PANGGUNG TEATER MATA 1982-2002 1. 1982 - Drama Eksperimental 1982, Monyet-Monyet 1986´- Pragmen Renungan Chairil Anwar - Drama³Putroe Ti2. 1983 - Gerak Kreatif 1988 ³Ekspresi Komposisi 1990 - Drama Granada - Drama Sketsa 3. 1984 - Drama Rebana Bunga Laut - Dramatisasi Puisi Solidaritas - Dramatisasi ? ?³Ahk? ?´ - Dramatari ? ?³Penyerangan Ka? ?²bah? ?´ - Pragmen Qurban - Musikalisasi Puisi Krueng Aceh 4. 1985 - Drama Serbuk Maut - Dramatisasi Puisi Ranub dan Daboh 5. !986 - Drama Hudep Saree Matee Syahid - Oratorium Kemerdekaan - Dramatisasi Sajak perang 6. 1987 - Drama ? ?³Oh Anunya? ?´ 7. 1988 - Musikalisasi Puisi lapar - Musikalisasi Puisi Hukla 8. 1989 - Drama Sumur Tanpa Dasar - Puisi Teateral 9. 1990 - Drama Malam Jahanam - Musikalisasi Puisi Jerit Burung 10. 1991 - Musikalisasi Puisi Kesaksian 11. 1992 - Drama ? ?³Machbeth? ?´ - Pentas Puisi Daboh dan Sajak Perang - Pentas Puisi Maskirbi kolaborasi 30 rapa? ?²I Pasee (uroh) - Drama Si Nyak 12. 1994 - Drama POMA (Luka Ibu Kita) Banda Aceh dan Jakarta (TIM) 13. 1995 - Drama POMA (Luka Ibu Kita) Banda Aceh-Yogya dan Solo 14. 1996 - Drama POMA (Luka Ibu Kita) Bandung 15. 1998 - Drama Musyawarah Burung 16. 1999 - Drama Meditasi Luka 17. 2002 - Drama ? ?³Jeeeh !? (Jalan Pintas) *****
07 Januari 2009
ISYARAT ITUKAH, IBU
Sajak : AA Manggeng
Mendung memayungi jalan
pada ketergasaanku lingkup kenangan mengajak pulang
tapi hujan memburuku di terminal waktu
aku terkurung di sini
mengenang masa kanak-kanak bersamamu
karena rindu melebihi gelisahku
jarak merubah dia menjadi rama-rama
kupikir inilah isyarat
melebihi degub berita dukacita
yang arif telah mendekapku sekian kurun waktu
merantaiku di pintu-pintu rahasia
mendung memayungi jalan
di keputusanku ada yang tak sampai ke sukmamu
berulangkali kubaca
ketuaanmu adalah buku
di lembar-lembarnya bertuliskan keabadian kasih
aku dan berikut yang lahir dari rahim
mumenterjemahkan kalimat demi kalimat
menyusun buku baru yang tak sampai-sampai
hingga hujan turun di pelataran terminal tua
membentuk gundukan tanah
tanah yang masih basah oleh kedukaan.
(ACEH)
Mendung memayungi jalan
pada ketergasaanku lingkup kenangan mengajak pulang
tapi hujan memburuku di terminal waktu
aku terkurung di sini
mengenang masa kanak-kanak bersamamu
karena rindu melebihi gelisahku
jarak merubah dia menjadi rama-rama
kupikir inilah isyarat
melebihi degub berita dukacita
yang arif telah mendekapku sekian kurun waktu
merantaiku di pintu-pintu rahasia
mendung memayungi jalan
di keputusanku ada yang tak sampai ke sukmamu
berulangkali kubaca
ketuaanmu adalah buku
di lembar-lembarnya bertuliskan keabadian kasih
aku dan berikut yang lahir dari rahim
mumenterjemahkan kalimat demi kalimat
menyusun buku baru yang tak sampai-sampai
hingga hujan turun di pelataran terminal tua
membentuk gundukan tanah
tanah yang masih basah oleh kedukaan.
(ACEH)
31 Desember 2008
30 Desember 2008
KINANTI
Kinanti, Kinantiku !.
Ramai dan sunyi rumah, pada satu jiwaku.
Ketika waktu bersayap camar, mengepaklah !
Terbang bebas, agar tak jenuh dikesunyian diri.
Sangkala waktu akan mempertemukan kita, entah dimana.
Kurasakan do’a-mu yang masqul, pada setiap langkahku, pasti!
Kapan kita dapat mencatat matahari,
sedangkan malam selalu pulaskan tidurmu,
aku terjaga Kinantiku pergi menjemput fajar.
"Suatu hari" janjiku padamu.
Engkau tersenyum maklum,
sebab kita telah sepakat,
memaklumi alir kehidupan !!.
NELANGSA CINTA
By: AA MANGGENG
Telah kuabaikan kenangan
Entah untuk berapa lama
Pasrah dalam penantian
Kutahu itu luka
Nelangsa oh tiada
Musnah segala cita
Dalam jiwamu tiada laraku
kutahu kau abaikan diriku
Sepi kini tak sepikan jalanmu
Musnah segala khayal
Dalam jiwamu tiada laraku
Pasrah dalam penantian
Nelangsa oh tiada
Nestapa sesal tiada jua
Jarak tempuh menjauh
Asmaraku terluka karenanya.
Telah kuabaikan kenangan
Entah untuk berapa lama
Pasrah dalam penantian
Kutahu itu luka
Nelangsa oh tiada
Musnah segala cita
Dalam jiwamu tiada laraku
kutahu kau abaikan diriku
Sepi kini tak sepikan jalanmu
Musnah segala khayal
Dalam jiwamu tiada laraku
Pasrah dalam penantian
Nelangsa oh tiada
Nestapa sesal tiada jua
Jarak tempuh menjauh
Asmaraku terluka karenanya.
Langganan:
Postingan (Atom)

